Postingan

Ruang Puisi - Terbungkamnya Dunia Sang Pengamat

Terbungkamnya Dunia Sang Pengamat Karya Ruang Puisi Diam dengan seribu bahasa dalam pikiran Menguji diri dalam kesabaran Dunia mampu membuat bisu Dunia pun mampu membuat amarah memuncak Dunia realita dalam dua sisi Diam terinjak Ataukah Berbicara dibenci Dibenci ataukah membenci Dua hal yang jadi pertimbangan hidup Banyak hal yang terjadi dalam dunia Putih dan hitam Dua hal yang menjadi Satu dalam satu manusia Sifat mulai tak terkontrol Salah ataukah benar Kini sulit membedakan dalam rana percaya Trik demi trik tergambar dalam satu senyum Senyum yang penuh banyak arti Dimana satu orang dan beribu orang memiliki pendapat berbeda-beda Fantasi demi fantasi mulai terbangun dalam imajinasi sesaat Bahagia ataukah sedih Dua hal yang mengusik pikiran manusia Aku pengamat dunia yang terbungkam Disekelilingku banyak hal yang terjadi Bahkan sering kali aku pun terjerumus kedalam dunia itu Dimensi perasaan yang tak searah oleh pikiran Te...

Puisi Jika saja

Jika Saja jika saja waktu bisa terulang akan kuulang masa itu  tanpa mengenalmu Jika perpisahan adalah kebahagiaan maka teruntuk itu  jangan memberi harapan jika saja waktu terulang akan kujalani apa yang kuiimpikan tanpa harus ada pernikahan jika perpisahan adalah keharusan maka teruntuk itu jangan memberi ingatan Jika saja kata yang memiliki makna Yang mengandai-andai Namun rasa penyesalan itu nyata Realita yang sulit diubah telah terjadi masanya Namun mengisahkan kenangan pahit Yang akan melekat  Jika saja kata yang memberi arti Arti dibalik pengalaman  Pengalaman yang memberi pelajaran Dengan kini masa kini Kamu dan siapapun itu Kataku yang telah melalui  Penyesalan mungkin meberi goresan Dalam ingatan namun ketahuilah Kita berhak bahagia

Puisi Anakku Muridku

Puisi Anakku Muridku Karya Sutryany Wahai anakku muridku Ini adalah Bangunan yang terlihat kokoh, Bangunan tempat belajar, Tempat mencari ilmu, Bukan sekedar rumah, Rumah kedua, Boleh menyebutnya Rumah belajar, Didalamnya ada yang seperti keluarga, Ada orang tua, Walaupun bukan orang tua kandung, Yang dipanggil ibu ataupun bapak guru, Ada teman, Teman yang menyenangkan, Sebut saja teman bermain, Bagiku menjadi guru itu menyenangkan, Mendidik bukan berarti guru tidak belajar, Kami gurumu pun belajar banyak hal, Dari mengenal semua karakter, Karakter yang berbeda, Unik namun menggemaskan, Itulah mereka, Anakku Muridku.

Ruang Puisi - Putih dan Hitam

Putih dan Hitam Putih kau cerca Hitam kau hina  Baik kau lukai Buruk pun kau tak sukai Maumu apa sebenarnya ? Kutau kita adalah sama-sama  pendosa pernah salah  pernah melakukan kesalahan namun sepantasnya jadilah pemikir pemikir dimana fikiran menjadi logika bukan melukai dengan cara demikian apa gunanya ? apa gunanya kau melukai orang  dengan menyuruh mereka yang tak punya raga apakah kau bisa puas dengan cara seperti itu? apa salahnya amarahmu kau redakan emosimu kau tenangkan dengan berserah Pada Tuhan aku bukan orang pintar tetapi tak pernah ada fikiran untuk hal yang seperti itu hanya untuk memuaskan amarah walaupun aku percaya dengan hal yang diluar nalar  namun tak sepantasnya melukai seseorang hanya untuk kepuasan sesaat  

Ruang Puisi Modern - Judul Sang Awam Maha benar

SANG AWAM MAHA BENAR karya Sutryany cambukan pada jiwa terukir dalam otak hancur tak rusak rusak yang berdarah kekejaman pada perkataan sang awam yang maha benar ucapan demi ucapan  yang terukir dalam benak membuat kepercayaan diriku hilang dimana harusnya aku mengadu pada mereka yang tak memahami wahai sang awam yang maha benar ada hati yang mudah sakit ada otak yang mudah stres kita sesama kita hanya berbeda kasta kau kaya  sedang aku miskin dalam dunia para sang awam yang terlihat ada akan dihormati yang terlihat sederhana akan jadi pembicaraan kalangan sesama wahai sang awam yang maha benar kapan kita saling mengerti ? jika kalian jadi aku dan aku jadi kalian kalian akan berfikir aku jahat itulah yang aku fikirkan tentang kalian yang merusak jiwaku  dengan kata yang tak pernah habisnya

Puisi - Mereka lebih suka diluar

MEREKA LEBIH SUKA DILUAR Bagi mereka yang lebih suka diluar Dunia luar terasa menyenangkan Bisa berkumpul dengan kawan Bisa ngobrol Bisa bercanda Bisa tertawa bareng Waktu tak terasa hingga sore tiba Bagi mereka yang lebih suka diluar Jalan-jalannya tak terbatas Bisa ke mall Bisa liburan kepantai Bisa jalan-jalan semaunya Bebas –sebebas bebasnya Bahagia pastinya yah Namun kini dunia telah sakit Sang petinggi diseluruh dunia telah memberi arahan Menghimbau tuk tinggal dirumah Janganlah keluar Jangan keras kepala Tinggalah dirumah Dengarkanlah Dengarlah untuk   negaramu Untuk orang tersayangmu dan Untuk kebaikan dirimu sendiri Bagi mereka yang lebih suka diluar Katanya dirumah sungguhlah membosankan Kuota habis tak terelakkan Diet gagal Rebahan tak ada hentinya Dan kerjaan menumpuk Itulah pandangan bagi   mereka yang lebih suka diluar

Ruang Puisi - Gambaran diri Untuk dunia

Gambaran Diri Untuk Dunia Renungan dalam imajinasi, Menghimpit rasa, Dan menyepikan diri dalam zona ruang hampa, Menanya pada diri sendiri, Mengapa masih begini, Senyum sendiri tak memiliki arti, Tertawa terbahak-bahak, Beginikah gambaran kepura-puraan pada dunia ? Terpintas Perkataan pikiran mulai menggila dengan mata yang melihat gambaran pada isi cermin, Katanya Sosok yang selalu berbohong itukah dirimu? Terlalu menyedihkan, Kau manusia yang berakal Tapi mudah tergiur dunia, Namun terpuruk sendiri dibalik cerianya gambaran wajah yang selalau kau perlihatkan,, Lucu yah, Muak, Benci, Hina, Gambaranmu tak nyata untuk dunia, Sedihlah jika kau sedih, Tertawalah jika bahagia, Jangan berbohong terus menerus, Sebab lukamu tidaklah akan usai, Walaupun Dunia yang kau tahu Banyak penanya yang hanya ingin tahu, Tapi tak pernah mencoba memahami, Namun setidaknya kau tak berbohong pada diri sendiri.

Ruang Puisi - Senja

Senja Karya Ruang Puisi Senja Perkenankan ku melihatmu sejenak Menikmati indahmu dikejauhan  Dengan rasa nyaman yang kau berikan Walaupun kutau kau hanya sesaat memberi keindahan Senja  Kau mungkin terkadang mengabaikan rinduku Dengan membiarkanku sepi dalam malam yang hampa Dengan suara sunyi yang membuatku sendiri Tetapi kau selalu mengingatkanku untuk membayangkanmu Senja  Jika sang mentari muncul dipagi hari  Kulewati waktuku dengan berharap kulihat kau disore nanti  Biarkan kulihat engkau diwaktu singkatmu Pergi dengan selalu memberi rindu  dan kembali menampakkan diri dalam setiap hari